Sepakbola di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh bangsa Eropa terutama bangsa Belanda. Sepakbola yang saat itu dikenal dengan nama Voetbal sering kali digelar untuk meramaikan pasar malam dan pertandingannya digelar pada sore hari. Selain sepakbola, bangsa Eropa juga memperkenalkan olahraga lain seperti renang, kasti, bola tangan, tenis dan hoki. Namun, semua jenis olahraga itu hanya terbatas untuk kalangan Eropa, Belanda, dan Indo. Sehingga sepak bola olahraga yang paling disukai karena tidak memerlukan tempat khusus dan orang pribumi boleh memainkannya.
Pada tahun 1930 di Yogyakarta, tepatnya pada tanggal 19 April 1930 PSSI berdiri dengan nama Persatuan Sepak Raga Seloeroeh Indonesia dan menjadikan Ir. Soeratin Sosrosoegondo sebagai ketua umum pertamanya. Kongres PSSI pertama kali diadakan pada tahun itu juga yang dilaksanakan di kota Solo. Kemudian, PSSI bergabung dengan FIFA (Federasi Sepakbola Dunia) pada tahun 1952 kemudian dengan AFC (Federasi Sepakbola Asia) pada tahun 1954.
Latar belakang Ir. Soeratin Sosrosoegondo adalah seorang insinyur sipil. Ia meyelesaikan pendidikannya di Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman, pada tahun 1927 dan kembali ke tanah air pada tahun 1928.
Sebagai organisasi olahraga yang lahir pada masa penjajahan Belanda, kelahiran PSSI ada kaitannya dengan upaya politik untuk menentang penjajahan dan Soeratin melihat sepak bola sebagai wadah terbaik untuk menyemai nasionalisme di kalangan pemuda sebagai sarana untuk menentang Belanda.
Sampai dengan tahun 1979, kompetisi sepakbola nasional diselenggarakan secara amatir yang dikenal dengan nama Perserikatan. Pada tahun 1979-1980an diperkenalkan Kompetisi Liga Sepakbola Utama (Galatama). Meski demikian, baik Perserikatan maupun Galatama tetap berjalan sendiri-sendiri. Galatama merupakan kompetisi sepak bola semi-profesional yang terdiri dari sebuah divisi tunggal (kecuali pada musim tahun 1983 dan 1990 terdiri dari 2 divisi).
Pada tahun 1994, PSSI menggabungkan Perserikatan dan Galatama dan membentuk Liga Indonesia, memadukan fanatisme yang ada di Perserikatan dan profesionalisme yang dimiliki Galatama. Dengan tujuan meningkatkan kualitas sepak bola Indonesia. Dan Pada tahun 2008, PSSI menyelenggarakan Liga Super Indonesia sebagai liga sepak bola profesional pertama di Indonesia, menggantikan Divisi Utama sebagai kompetisi tingkat teratas...
| No | Nama | Awal jabatan | Akhir jabatan |
|---|---|---|---|
| 1 | Soeratin Sosrosoegondo | 1930 | 1940 |
| 2 | Artono Martosoewignyo | 1941 | 1949 |
| 3 | Maladi | 1950 | 1959 |
| 4 | Abdul Wahab Djojohadikoesoemo | 1960 | 1964 |
| 5 | Maulwi Saelan | 1964 | 1967 |
| 6 | Kosasih Poerwanegara | 1967 | 1974 |
| 6 | Bardosono | 1975 | 1977 |
| 7 | Moehono | 1977 | 1977 |
| 8 | Ali Sadikin | 1977 | 1981 |
| 9 | Sjarnoebi Said | 1982 | 1983 |
| 10 | Kardono | 1983 | 1991 |
| 11 | Azwar Anas | 1991 | 1999 |
| 12 | Agum Gumelar | 1999 | 2003 |
| 13 | Nurdin Halid | 2003 | 1 April 2011 |
| * | Agum Gumelar (Ketua Komite Normalisasi PSSI) | 1 April 2011 | 9 Juli 2011 |
| 14 15 | Djohar Arifin Husin La Nyalla Mataliti | 9 Juli 2011 2015 | 2015 2019 |
